“I Can Speak” Film yang Mengangkat Kisah Comfort Women Masa Penjajahan Jepang di Korea

TERKINNI.COM – Film yang dirilis pada tahun 2017 ini dibintangi oleh aktris dan aktor kawakan yaitu Na Moon Hee dan Lee Jae Hoon. Film ini bercerita tentang kisah seorang comfort women (sebutan untuk wanita yang dipaksa menjadi pemuas seksual tentara Jepang) masa Perang Dunia II. 

Na Moon Hee berperan sebagai Na Ok Bun seorang wanita tua yang kerap menyusahkan warga dan pegawai pemerintah karena selalu mengajukan pengaduan sipil yang tak henti-hentinya. Sementara Lee Jae Hoon berperan sebagai Park Min Jae yang merupakan seorang pekerja pemerintah di tempat tinggal Na Ok Bun. 

Na Ok Bun berusaha untuk belajar bahasa Inggris, sayangnya ia tidak cocok dengan kelas manapun. Hingga suatu hari ia mendengar Park Min Jae berbicara dalam bahasa Inggris. Na Ok Bun meminta Park Min Jae untuk mengajarinya bahasa Inggris. Namun Park Min Jae menolak permintaan tersebut.

Tak tinggal diam, untuk meluluhkan hati Park Min Jae, Na Ok Bun selalu memberi makan adik dari Park Min Jae. Hal tersebut akhirnya membuat hati Park Min Jae luluh dan membantu Na Ok Bun untuk belajar bahasa Inggris. 

Cr. Cultura

Mungkin kita bertanya-tanya untuk apa wanita yang sudah tua ini ingin belajar bahasa Inggris? Ternyata Na Ok Bun ingin melanjutkan mimpi temannya yang sudah meninggal bernama Jeong Shim. Ia ingin bersaksi tentang hal-hal yang ia dan teman-temannya hadapi saat menjadi comfort women di depan kongres Amerika Serikat dan menuntut permohonan maaf dari kekaisaran Jepang. 

Cr. Wikipedia

Menurut kesaksian para wanita yang menjadi korban comfort women yang selamat, para wanita ini diiming-imingi pekerjaan dengan upah yang besar. Namun karena jumlahnya tak dapat memenuhi kebutuhan, pemerintah Jepang mulai menggunakan metode pemaksaan dengan melakukan penculikan. 

Para wanita ini ditempatkan di daerah-daerah pangkalan militer Jepang untuk menjadi pemuas kebutuhan seksual tentara Jepang. Mereka harus melayani 30-40 tentara Jepang dengan durasi waktu 15-30 menit, bahkan ada yang sampai melayani 100 tentara Jepang.       

Setelah Jepang kalah di Perang Dunia II, para comfort women ini dikembalikan ke negara asalnya. Namun terdapat comfort women yang tidak beruntung, mereka ditelantarkan bahkan harus mengalami gyokusai (sengaja dibunuh) untuk menghilangkan jejak. 

Korea Selatan telah menuntut pemerintah Jepang untuk meminta maaf kepada korban comfort women. Pada tahun 2015, akhirnya kekaisaran Jepang meminta maaf atas masalah comfort women dengan membuat kesepakatan antara kedua negara. Sayangnya banyak yang merasa permintaan dan uang ganti rugi tersebut tak sepadan dengan apa yang diderita para korban comfort women. 

Latest articles

Related articles

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x